Jakarta, 26 Agustus 2025 — Aksi demonstrasi di depan Gedung DPR kembali diwarnai keterlibatan pelajar STM. Fenomena ini memicu keprihatinan publik karena aksi yang seharusnya menjadi ruang penyampaian pendapat berubah menjadi anarkis dan merusak fasilitas umum.
Ketua Umum Kaukus Muda Indonesia (KMI), Edi Homaidi, menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam aksi jalanan sangat berisiko, terlebih bila kemudian ditunggangi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “Aspirasi itu sah, tetapi masa depan anak-anak kita jangan dikorbankan,” tegasnya.
Dalam catatan sejumlah pengamat, keterlibatan pelajar muda biasanya dipicu oleh minimnya pemahaman politik dan lemahnya pengawasan. Akibatnya, mereka rentan dimobilisasi dan terjebak dalam situasi berbahaya.
Edi Homaidi menegaskan bahwa KMI mendorong aspirasi generasi muda tetap disampaikan dengan cara yang elegan dan konstitusional. Ia menilai ruang dialog, forum akademik, dan saluran digital adalah wadah yang lebih konstruktif daripada aksi jalanan yang berujung ricuh.
Di sisi lain, aparat keamanan diminta tetap bersikap bijak. Pendekatan persuasif dan pembinaan harus dikedepankan agar pelajar tidak semakin teralienasi dari lingkungan sekolah dan keluarga mereka.
KMI menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, orang tua, dan negara untuk melindungi generasi muda dari eksploitasi politik. “Energi mereka seharusnya diarahkan untuk belajar dan berinovasi, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat,” ujar Edi.
Sejumlah pihak juga mengingatkan bahwa aksi anarkis hanya akan mengaburkan substansi perjuangan. Dampak buruknya tidak hanya pada citra gerakan sipil, tetapi juga terhadap masa depan demokrasi Indonesia.
Menutup pernyataannya, KMI menegaskan komitmen untuk menjadi jembatan aspirasi anak muda, sekaligus mengingatkan bahwa ruang demokrasi harus dijaga agar tetap sehat, terbuka, dan bebas dari kekerasan.