Pertamina kembali menyalakan api semangat inovasi generasi muda lewat ajang Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2025. Kompetisi ilmiah tahunan bertajuk Energynovation Ideas Competition itu resmi menutup pendaftaran dengan capaian luar biasa: 822 karya ilmiah dari 247 perguruan tinggi di 30 provinsi. Antusiasme mahasiswa ini menunjukkan betapa isu energi, transisi energi, dan keberlanjutan kini menjadi denyut baru di kalangan muda Indonesia.
Dari karya-karya yang masuk, terlihat keberanian mahasiswa merambah isu-isu besar: energi terbarukan, digitalisasi energi, hingga strategi dekarbonisasi. Mereka bukan sekadar menulis, melainkan menghadirkan gagasan yang berpotensi menjadi solusi nyata. Bagi publik, ini bukan hanya kompetisi, melainkan cermin optimisme bahwa masa depan energi Indonesia berada di tangan generasi baru yang tak lagi sekadar penonton.
Fadjar Djoko Santoso, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menyebut partisipasi ribuan mahasiswa itu sebagai sinyal kuat. “Kami bangga melihat semangat mahasiswa Indonesia yang siap berkontribusi melalui gagasan inovatif. Setiap karya ilmiah berpotensi memberi dampak bagi masyarakat maupun industri energi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/8).
Menurut Romadhon Jasn, Direktur Gagas Nusantara, PGTC menjadi lebih dari sekadar lomba. “Pertamina berhasil membuka ruang dialog antara korporasi energi nasional dengan mahasiswa. Ini panggung yang mempertemukan gagasan kritis dengan kebutuhan nyata industri. Dampaknya bisa menular ke kampus lain, membangun kultur baru: mahasiswa sebagai produsen solusi,” katanya.
Tahap seleksi kini memasuki babak penjurian. Dewan juri independen, terdiri atas akademisi, praktisi, dan pakar energi, akan menyaring 822 karya menjadi 10 finalis terbaik. Mereka nantinya akan mempresentasikan gagasannya secara langsung pada acara puncak Final PGTC 2025, September mendatang. Pertarungan ide ini diharapkan melahirkan peta jalan baru bagi inovasi energi nasional.
Romadhon menilai, kehadiran PGTC menjembatani jarak antara kebijakan energi dengan aspirasi publik kampus. “Generasi muda butuh ruang untuk menyuarakan kegelisahannya tentang energi bersih dan transisi energi. Pertamina hadir bukan hanya sebagai penyedia energi, tapi juga fasilitator masa depan,” tegasnya.
Selain hadiah uang tunai hingga puluhan juta rupiah, para pemenang akan memperoleh kesempatan benchmark internasional ke Tsinghua University, China. Program ini dirancang agar mahasiswa tak hanya berkompetisi, tapi juga belajar langsung dari pusat riset global. Pertamina ingin memastikan gagasan mahasiswa bisa melampaui batas ruang kelas dan menembus panggung dunia.
Romadhon kembali menegaskan, benchmark internasional itu akan memperkaya perspektif mahasiswa. “Mereka akan kembali dengan pengetahuan baru dan semangat global, lalu menularkannya ke tanah air. Ini investasi sosial Pertamina untuk mencetak kader energi masa depan,” ucapnya.
Dengan capaian partisipasi yang meluas dan peluang yang ditawarkan, publik menaruh harapan besar pada PGTC 2025. Kompetisi ini tak hanya merangsang inovasi, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa energi muda benar-benar menjadi energi bangsa. Pertamina pun menuai apresiasi, karena di balik angka ratusan karya itu, ada gelombang kesadaran baru: masa depan energi Indonesia sedang disiapkan oleh generasi yang berani bermimpi dan bertindak.