77 Tahun HMI : Pemilu dan Ujian Independensi HMI

BERITA36 Dilihat

Oleh : Muh. Ubaidillah Daga

Kader HMI Jakarta Raya

 

Semenjak berdirinya pada 05 februari 1947 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah menjadi organisasi yang eksis dalam gerakan-garakan politik, tapi gerakan politik yang dimaksud bukan gerakan politik sektoral yang hanya membawa kepentingan segelintir orang semata. HMI berdiri karena alasan kebangsaan dan keislaman yang berbasis pada kemerdekaan, kesejahteraan serta keadilan bagi seluruh rakyat indonesia. Dalam sejarahnya HMI sudah mencatat beragam kontribusi untuk negara ini, mulai dari pikiran sampai gerakan nyata. Kontribusi itu dilakukan dengan kolektif dan egaliter secara organisatoris maupun individu-individu yang memiliki kesadaran akan kebangsaan dan keislaman.

 

Dalam paradigma konstitusi (AD HMI) pasal 5 berbunyi “HMI bersifat independen”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) dijelaskan bahwa independen berarti tidak terikat, bebas, merdeka atau berdiri sendiri. Tafsiran mengenai independen tersebut bukan berarti HMI tidak boleh mengambil sikap keberpihakan, independen bukan berarti berdiri ditengah atau tidak berpihak. Yang dimaksud dengan independen adalah kita harus memiliki sikap yang jelas atau keberpihakan terkait persoalan yang ada, tapi sikap atau keberpihakan itu harus berbasis pada kebangsaan dan keislaman yang semuanya melalui kajian yang objektif, kritis dan komprehensif untuk rakyat indonesia.

 

Di usia ke 77 tahun HMI sudah banyak melalui dan menyikapi peristiwa-peristiwa sejarah yang seharusnya HMI sudah mengantongi kematangan rasa, pikiran maupun tindakan dalam membaca persoalan-persoalan kontemporer. Kenyataannya tidak demikian, HMI secara organisatoris atau kader secara individu sering terperangkap dalam jeruji dilematis untuk menentukan sikap, sering juga HMI kehilangan independensinya. Dalam teori psikologi usia 77 tahun masuk kategori lansia yang berarti usia ini HMI sudah harus memiliki kebermaknaan hidup, hidup yang berguna baik untuk diri sendiri maupun orang lain serta melaksanakan kewajiban spiritualitas. Sayangnya kebermaknaan hidup HMI mulai tereduksi seiring bertambahnya usia dan perkembangan jaman, pasalnya sering kali para pejabat HMI lebih mementingan kepentingan pribadi dan kronisme belaka. HMI sudah seperti pasar malam, dibawah payung hitamnya malam banyak sekali atraksi, permainan, penjual makanan dan penjual pernak-pernik. HMI pun demikian tenggelam dalam atraksi, permainan, jual gagasan, jual jabatan, jual harga diri bahkan jual organisasi, semua berbasis komersial.

 

Dalam rentetan problematika yang terjadi, untungnya HMI masih memiliki cadangan kader-kader yang militan, kritis, profesional dan yang masih teguh dalam khitah perjuangan HMI yang membuat HMI sangat diperhitungkan dan dibutuhkan dalam setiap peristiwa kemanusiaan, persoalan ekonomi, kebudayaan, hukum ataupun momentum politik.

 

Pemilu 2024 merupakan pemilihan umum serentak yang menjadi kesempatan dan peluang bagi orang-orang yang memiliki kepetingan politik didalamnya, kenapa demikian pasalnya tidak sedikit juga yang apatis bahkan skeptis terhadap pemilu yang didasari oleh kegagalan-kegagalan pemilu sebelumnya untuk melahirkan pemimpin atau wakil rakyat yang betul-betul menyuarakan serta memperjuangkan kepentingan rakyat. A. Dahlan Ranuwihardjo dalam bukunya Menuju Pejuang Paripurna mengatakan “kita belum mampu melahirkan pemimpin yang ideal, selalu kontrofersial. Disatu pihak dipuji secara fanatik, dipihak lain dicaci secara ekstrim” pernyataan ini sejalan dengan analogi politik yang buat oleh Maurice Duverger dalam bukunya Sosiologi Politik mengatakan “seperti Dewa Janus yang berkepala dua, integrasi dan ambivalen” itulah politik.

 

Momentum pesta demokrasi, pemilu 2024 bukan hanya sekedar momentum politik semata, melainkan bisa menjadi ujian idependensi HMI, karena dalam pemilu 2024 ini kader-kader yang memiliki jabatan strategis dalam struktural mulai dari tingkatan Pengurus Besar (PB), BADKO hingga Cabang yang tersebar diseluruh indonesia tidak sedikit yang melanggar konstitusi HMI. Dalam ART HMI kiranya jelas termaktub dibagian II Syarat-Syarat Keanggotaan pasal 2 ayat 1 “Setiap Mahasiswa Islam yang ingin menjadi anggota harus menyatakan kesedian secara tertulis untuk mematuhi Anggaran Dasar,Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan/peraturan organisasi lainnya” kenapa pasal ini harus diperhatikan karena dalam pemilu 2024 banyak kader-kader yang miliki jabatan yang sudah saya sebutkan diatas menjadi kontestan dalam kompetisi pemilu 2024 tanpa ada sikap atau surat pernyataan tertulis mengundurkan diri sebagai anggota HMI, problematika ini tidak banyak juga kader yang merespon secara kritis dan etis. Mungkin karena orang-orang yang bermasalah ini merupakan kerabat, senior atau kroni yang membuat kader-kader lain enggan meresponya. Padahal sudah jelas melanggar konstitusi HMI (ART Bagian III Masa Keanggotaan) pasal 3 ayat 4 huruf d “Menjadi Anggota Partai”.

 

Akumulasi persoalan diatas hanya sebagian hal penting yang harus direspon dan dikritisi secara objektif, masih banyak persoalan yang sampai saat ini HMI absen dalam menyikapi dengan kajian-kajian komprehensif serta aksi nyata. Misalnya menjelang pemilu 2024 ada beberapa problematik kontroversial yang belum disoroti seperti politik dinasti, politisasi bansos, pelanggaran kode etik ketua Mahkama Konstitusi, pelanggaran etik Ketua Komisi Pemilihan Umum serta netralitas TNI-POLRI.

 

Terkait independensi HMI sudah menjadi rahasia umum bahwa orientasinya mulai melenceng dari akidah perjuangannya, mungkin saja dipengaruhi oleh relasi kuasa yang mengakibatkan termarjinalnya independensi HMI. Kompleksitas persoalan yang ada secara pribadi agak sulit memang untuk menarik kesimpulan yang komprehensif, apalagi memberikan saran yang tepat serta ideal, kita memerlukan waktu sesingkat-singkatnya untuk berkontemplasi secara kolektif dan egaliter untuk mereduksi ketimpangan yang ada dengan aksi nyata. Jika kita mencintai himpunan ini kita juga harus mencintai kelebihan dan kekurangannya, hanya dengan cinta kita bisa memberbaiki kekurangan dan mempertahankan kelebihan. Semoga dengan cinta juga himpunan ini bisa terus mengukir tinta emas dalam sejarahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *